Monday, February 14, 2011 | By: fatamorgana

Ayat Syifa' (Penyembuh)

Terdapat 6 ayat Syifa' di dalam Al-Quran:

Klik pada rajah untuk lebih jelas
wa nunazzilu minalquraani maa hua syifaaa uwwarahmalill'alamin (Al-Israa' : 82)
wa yashfi suduro qaumimmukminin (At-Taubah : 14)
wa syifaaa ullimaa fissudoor (Yunus : 57)
qul hua lilladzina aamanoo hudawwasyifaaa' (Fussilat : 44)
wa idza maridhtu fahuwa yasyfeen (Al-Syu'ara' : 80)
feehi syifaaa ullinnaas (An-Nahl : 69)

Maksudnya:
  1. "Dan kami turunkan dengan beransur-ansur dari Al-Quran ayat-ayat suci yang menjadi ubat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman kepadanya." (Al-Israa' : 82)
  2. "Dan dia mengubati hati-hati orang yang beriman." (At-Taubah : 14)
  3. "Dan (Al-Quran) menjadi penawar bagi penyakit-penyakit batin yang ada di dalam dada kamu." (Yunus : 57)
  4. "Katakanlah (wahai Muhammad): Al-Quran itu menjadi (cahaya) petunjuk serta penawar bagi orang-orang yang beriman." (Fussilat : 44)
  5. "Dan apabila aku (Nabi Ibrahim a.s) sakit, maka Dialah yang menyembuhkan penyakitku." (Al-Syu'ara': 80)
  6. "Yang mengandungi penawar bagi manusia dari pelbagai penyakit." (An-Nahl : 69)
Berkata Sheikh Abu al Qasim al Qusyairi r.a.:
"Pada suatu hari, anakku ditimpa sakit kuat. Ketika tidur, aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Lalu aku berkata kepada Baginda s.a.w, "wahai Rasulullah!Lihatlah keadaan anakku." Maka Baginda s.a.w bersabda, "Di manakah kamu dengan ayat Syifa'?Tidakkah kamu telah mengumpulnya?" Aku menjawab, "Aku tidak mengetahuinya." Selepas itu, aku membaca Al-Quran sehingga khatam dan setiap kali aku menemui ayat yang menyebut di dalamnya tentang Syifa' (penyembuhan), aku mengumpulnya. Terdapat enam ayat Syifa' di dalamnya Al-Quran. Maka aku menulisnya dan mendirus tulisan tersebut di dalam sebuah bekas. Kemudian aku memberi anakku minum air tersebut. Maka selepas itu dia kembali sembuh dan sihat."

Rujukan:
Kitab Zikir Pagi, Petang dan Pendinding Diri, himpunan oleh Al-Muhaddith Dr. Sayyid Muhammad ibn. 'Alawi Al-Maliki Al-Hasani, m/s 50-53 terbitan Sofa Production cetakan kedua (Muharram 1432 H / Disember 2010 M), dikeluarkan oleh Sheikh Muhammad Fuad bin Kamaluddin Al-Maliki.

wallahua'lam
Friday, February 11, 2011 | By: fatamorgana

Huraian Mengenai Salahnya Pembahagian Tauhid Kepada Tiga

Ahlussnnah wal Jamaah (ASWAJA) berpegang bahawa, hakikat wahdaniah (keesaan Allah) itu ialah menafikan berbilang-bilang zat, sifat dan perbuatan Allah kerana Allah s.w.t tidak serupa langsung dengan makhluk pada zat, sifat dan perbuatanNya.

Zat Allah itu tidak tersusun daripada jauhar-jauhar dan 'aradh serta tidak boleh dibahagi-bahagi dan dipecah-pecahkan. Tidak ada zat dan lain yangmempunyai kesempurnaan sebagaimana kesempurnaan yang wajib bagi Allah s.w.t.

Wahdaniah al-Sifat (Esa dari segi sifatNya) bermakna sifat-sifat Allah itu tidak terbahagi-bahagi dengan pengertian bahawa Allah itu umpanya mempunyai dua Qudrat, dua Iradat dan lain-lain lagi sifat Allah s.w.t. Tidak ada seorang pun dari kalangan makhluk mempunyai sifat sebagaimana sifat-sifat Allah s.w.t.

Wahdaniah al-'Af'aal (Esa dari segi perbuatanNya) bermakna tidak ada selain Allah yang serupa dengan perbuatanNya kerana Allah s.w.t bersendirian dalam menjadikan atau mentiadakan sesuatu, membaeri manfaat, mudharat dan sebagainya.

Adapun makna Tauhid ialah mengesakan yang disembah dengan beribadat kepadaNya, di samping mengi'tiqadkan (meyakini dengan hati) bahawa Allah s.w.t itu Esa dari segi zat, sifat dan perbuatan yang layak disembah dan beribadah kepadaNya sebagaiman firman Allah s.w.t:

"Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepadaNya semata-mata." (Al-Israa': 23)

Oleh yang demikian, sesiapa yang menyekutukan (menyamakan) Allah dengan sesuatu dalam ibadah, maka dia telah menjadi syirik. Maksud ayat di atas, tidak membezakan di antara Al-Rab (Tuhan yang mentadbir alam) dan Al-Ilah (Tuhan yang layak disembah).

Rujukan:
Kertas kerja yang ditulis oleh Dr. Umar Abdullah Kamil untuk dibentangkan dalam Multaqa Tiga ulama' Makkah al-Mukarramah di Dewan Besar Pusat Islam Iskandar Johor, anjuran Jabatan Mufti Johor dan Yayasan Sofa Negeri Sembilan, pada 13 Safar 1429 bersamaan 20 Febuari 2008, terjemahan dan terbitan Sekretariat Penjelas Hukum Berkenaan Isu-isu Aqidah dan Syariah, Majlis Agama Islam Negeri Johor.

wallahua'lam

Peringatan Maulid Nabi - Bahagian 4

Kerancuan Faham Kalangan Anti Maulid

1. Kalangan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi berkata: “Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya. Seandainya hal itu merupakan perkara baik niscaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya”.

Jawab:

Baik, Rasulullah tidak melakukannya, apakah beliau melarangnya? Perkara yang tidak dilakukan oleh Rasulullah tidak sertamerta sebagai sesuatu yang haram. Tapi sesuatu yang haram itu adalah sesuatu yang telah nyata dilarang dan diharamkan oleh Rasulullah. Karena itu Allah berfirman:

“Apa yang diberikan oleh Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (QS. al-Hasyr: 7)
Dalam firman Allah di atas disebutkan “Apa yang dilarang ole Rasulullah atas kalian maka tinggalkanlah”, tidak mengatakan “Apa yang ditinggalkan oleh Rasulullah maka tinggalkanlah”. Ini artinya bahwa perkara haram adalah sesuatu yang dilarang dan diharamkan oleh Rasulullah, bukan sesuatu yang ditinggalkannya. Suatu perkara itu tidak haram hukumnya hanya dengan alasan tidak dilakukan oleh Rasulullah. Melainkan ia menjadi haram ketika ada dalil yang melarang dan mengharamkannya.

Lalu kita katakan kepada mereka: Apakah untuk mengetahui bahwa sesuatu itu boleh atau sunnah harus ada nash dari Rasulullah langsung yang secara khusus menjelaskannya?! Apakah untuk mengetahui boleh atau sunnahnya perkara maulid harus ada nash khusus dari Rasulullah yang berbicara tentang maulid itu sendiri?! Bagaimana mungkin Rasulullah berbicara atau melakukan segala sesuatu secara khusus dalam umurnya yang sangat singkat?! Bukankah jumlah nash-nash syari’at, baik ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits nabi, itu semua terbatas, artinya tidak membicarakan setiap peristiwa, padahal peristiwa-peristiwa baru akan terus bermunculan dan selalu bertambah?! Jika setiap perkara harus dibicarakan oleh Rasulullah langsung, lalu dimanakah posisi ijtihad dan apa fungsi ayat-ayat atau hadits-hadits yang memberikan pemahaman umum?! Misalkan firman Allah:

“Dan lakukan kebaikan oleh kalian supaya kalian beruntung” (QS. al Hajj: 77)
Apakah kemudian setiap bentuk kebaikan harus dikerjakan terlebih dahulu oleh Rasulullah supaya dihukumi bahwa kebaikan tersebut boleh dilakukan?! Tentunya tidak demikian. Dalam masalah ini Rasulullah hanya memberikan kaedah-kaedah atau garis besarnya saja. Karena itulah dalam setiap pernyataan Rasulullah terdapat apa yang disebut dengan Jawami’ al-Kalim. Artinya bahwa dalam setiap ungkapan Rasulullah terdapat kandungan makna yang sangat luas. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang memulai (merintis perkara baru) dalam Islam sebuah perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatannya tersebut dan pahala dari orang-orang yang mengikutinya sesudah dia, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun”. (HR. Muslim dalam Shahih-nya).
Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah bersabda:

“Barang siapa merintis sesuatu yang baru dalam agama kita ini yang bukan berasal darinya maka ia tertolak”. (HR. Muslim)
Dalam hadits ini Rasulullah menegaskan bahwa sesuatu yang baru dan tertolak adalah sesuatu yang “bukan bagian dari syari’atnya”. Artinya, sesuatu yang baru yang tertolak adalah yang menyalahi syari’at Islam itu sendiri. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan Rasulullah dalam hadits di atas: “Ma Laisa Minhu”. Karena, seandainya semua perkara yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah atau oleh para sahabatnya adalah perkara yang pasti haram dan sesat dengan tanpa terkecuali, maka Rasulullah tidak akan mengatakan “Ma Laisa Minhu”, tapi mungkin akan berkata: “Man Ahdatsa Fi Amrina Hadza Syai’an Fa Huwa Mardud” (Siapapun yang merintis perkara baru dalam agama kita ini maka ia pasti tertolak). Dan bila maknanya seperti ini maka berarti hal ini bertentangan dengan hadits riwayat Imam Muslim di atas sebelumnya. Yaitu hadits: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan....”. Padalah hadits riwayat Imam Muslim ini megandung isyarat anjuran bagi kita untuk membuat suatu yang baru, yang baik, dan yang sejalan dengan syari’at Islam. Dengan demikian tidak semua perkara baru adalah sesat dan tertolak. Namun setiap perkara baru harus dicari hukumnya dengan dilihat persesuaiannya dengan dalil-dalil dan kaedah-kaedah syara’. Bila sesuai maka boleh dilakukan, dan jika menyalahi maka tentu tidak boleh dilakukan. Karena itulah al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menuliskan sebagai berikut:

“Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi-ah menurut tahqiq (penelitian) para ulama adalah; bahwa jika perkara baru tersebut masuk dan tergolong kepada hal yang baik dalam syara’ berarti termasuk bid’ah hasanah, dan jika tergolong kepada hal yang buruk dalam syara’ maka berarti termasuk bid’ah yang buruk”.
Pantaskah dengan keagungan Islam dan keluasan kaedah-kaedahnya jika dikatakan bahwa setiap perkara baru adalah sesat?

2. Kalangan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi biasanya berkata: “Peringatan maulid itu sering dibarengi dengan perkara-perkara haram dan maksiat”.

Jawab:

Apakah karena alasan tersebut lantas peringatan maulid menjadi haram secara mutlak?! Pendekatannya; Apakah seseorang haram baginya untuk masuk ke pasar, dengan alasan di pasar banyak yang sering melakukan perbuatan haram, seperti membuka aurat, menggunjingkan orang, menipu dan lain sebagainya?! Tentu tidak demikian. Maka demikian pula dengan peringatan maulid, jika ada kesalahan-kesalahan atau perkara-perkara haram dalam pelaksanaannya, maka kesalahan-kesalahan itulah yang harus diperbaiki. Dan memperbaikinya tentu bukan dengan mengharamkan hukum maulid itu sendiri. Karena itulah al-Hafizh Ibn Hajar telah mengatakan:

“Asal peringatan maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum Salaf saleh pada tiga abad pertama, tetapi meski demikian peringatan maulid mengandung kebalikan dan lawannya. Barangsiapa dalam memperingati maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal buruk yang diharamkan), maka itu adalah bid’ah hasanah”.
3. Kalangan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi berkata: “Peringatan Maulid itu seringkali menghabiskan dana yang sangat besar. Hal itu adalah perbuatan tabdzir. Mengapa tidak dialokasikan saja untuk kebutuhan ummat yang lebih penting?”.

Jawab:

Laa Hawla Walaa Quwwata Illa Billah. Perkara yang telah dianggap baik oleh para ulama disebutnya sebagai tabdzir?! Orang yang berbuat baik, bersedekah, ia anggap telah melakukan perbuatan haram, yaitu perbuatan tabdzir?! Mengapa orang-orang seperti ini selalu saja berprasangka buruk (suuzhzhann) terhadap umat Islam?! Mengapa harus mencari-cari dalih untuk mengharamkan perkara yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya?! Mengapa mereka selalu saja beranggapan bahwa peringatan maulid tidak ada unsur kebaikannya sama sekali untuk ummat ini?! Bukankah peringatan Maulid Nabi mengingatkan kita kepada perjuangan Rasulullah dalam berdakwah sehingga membangkitkan semangat kita untuk berdakwah seperti yang telah dicontohkan beliau?! Bukankah peringatan Maulid Nabi memupuk kecintaan kita kepada Rasulullah dan menjadikan kita banyak bershalawat kepadanya?! Sesungguhnya maslahat-maslahat besar semacam ini bagi orang yang beriman tidak bisa diukur dengan harta.

4. Kalangan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi sering berkata: “Peringatan Maulid itu pertama kali diadakan oleh Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Tujuan beliau saat itu adalah memobilisasi ummat untuk berjihad. Berarti orang yang melakukan peringatan maulid bukan dengan tujuan itu, telah menyimpang dari tujuan awal maulid. Oleh karenanya peringatan maulid tidak perlu”.

Jawab:

Pernyataan seperti ini sangat aneh. Ahli sejarah mana yang mengatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn al-Jauzi, Ibn Katsir, al-Hafizh as-Sakhawi, al-Hafizh as-Suyuthi dan lainnya telah sepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Raja al-Muzhaffar, bukan sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Orang yang mengatakan bahwa sultan Shalahuddin al-Ayyubi yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi telah membuat “rekayasa jahat” terhadap sejarah. Perkataan mereka bahwa sultan Shalahuddin membuat maulid untuk tujuan mobilisasi umat untuk jihad dalam perang salib, maka jika diadakan bukan untuk tujuan seperti ini berarti telah menyimpang, adalah perkataan yang menyesesatkan.

Target mereka yang berkata demikian adalah hendak mengharamkan maulid, atau paling tidak hendak mengatakan tidak perlu. Kita katakan kepada mereka: Apakah jika orang hendak berjuang harus bergabung dengan bala tentara sultan Shalahuddin? Apakah menurut mereka yang berjuang untuk Islam hanya bala tentara sultan Shalahuddin saja? Dan apakah dalam berjuang harus mengikuti metode dan strategi Shalahuddin saja, dan jika tidak, berarti tidak berjuang namanya?! Hal yang sangat mengherankan ialah kenapa bagi sebagian mereka yang mengharamkan maulid ini, dalam keadaan tertentu, atau untuk kepentingan tertentu, kemudian mereka mengatakan maulid boleh, istighotsah boleh, bahkan ikut-ikutan tawassul, tapi kemudian terhadap orang lain mereka mengharamkannya?! Hasbunallah.

Para ahli sejarah yang telah kita sebutkan di atas, tidak ada seorangpun dari mereka yang mengisyaratkan bahwa tujuan maulid adalah untuk memobilisasi ummat untuk jihad dalam perang di jalan Allah. Lalu dari mana muncul pemikiran seperti ini?! Tidak lain, pemikiran tersebut hanya muncul dari hawa nafsu belaka. Benar, mereka selalu mencari-cari celah sekecil apapun untuk mengungkapkan “kebencian” dan “sinis” mereka terhadap peringatan Maulid Nabi ini. Apa dasar mereka mengatakan bahwa peringatan maulid baru boleh diadakan jika tujuannya mobilisasi massa untuk jihad?! Apa dasar perkataan seperti ini?! Sama sekali tidak ada. Al-Hafizh Ibn Hajar, al-Hafizh as-Suyuthi, al-Hafizh as-Sakhawi dan para ulama lainnya yang telah menjelaskan tentang kebolehan peringatan Maulid Nabi, sama sekali tidak mengaitkannya dengan tujuan mobilisasi massa untuk berjihad. Kemudian dalil-dalil yang mereka kemukakan dalam masalah maulid tidak menyebut prihal jihad sama sekali, bahkan mengisyaratkan saja tidak. Dari sini kita tahu betapa rancu dan tidak berdasar perkataan mereka bila sudah berkaitan dengan hukum, istinbath dan istidlal. Semoga Allah merahmati para ulama kita. Sesungguhnya mereka adalah cahaya penerang bagi umat ini dan sebagai penuntun bagi kita semua menuju jalan yang diridlai Allah. Amin.

wallahua'lam
Tuesday, February 8, 2011 | By: fatamorgana

Peringatan Maulid Nabi - Bahagian 3

Fatwa Beberapa Ulama Ahlussunnah

1. Fatwa Syaikh al-Islam Khatimah al-Huffazh Amir al-Mu’minin Fi al-Hadits al-Imam Ahmad Ibn Hajar al-‘Asqalani. Beliau menuliskan menuliskan sebagai berikut:
“Asal peringatan maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum Salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawannya, jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid’ah hasanah”. Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang tsabit (Shahih)”.

2. Fatwa al-Imam al-Hafizh as-Suyuthi. Beliau mengatakan dalam risalahnya Husn al-Maqshid Fi ‘Amal al-Maulid: Beliau menuliskan sebagai berikut:

“Menurutku: pada dasarnya peringatan maulid, berupa kumpulan orang-orang, berisi bacaan beberapa ayat al-Qur’an, meriwayatkan hadits-hadits tentang permulaan sejarah Rasulullah dan tanda-tanda yang mengiringi kelahirannya, kemudian disajikan hidangan lalu dimakan oleh orang-orang tersebut dan kemudian mereka bubar setelahnya tanpa ada tambahan-tambahan lain, adalah termasuk bid’ah hasanah yang pelakunya akan memperoleh pahala. Karena perkara semacam itu merupakan perbuatan mengagungkan terhadap kedudukan Rasulullah dan merupakan penampakan akan rasa gembira dan suka cita dengan kelahirannya yang mulia. Orang yang pertama kali merintis peringatan maulid ini adalah penguasa Irbil, Raja al-Muzhaffar Abu Sa'id Kaukabri Ibn Zainuddin Ibn Buktukin, salah seorang raja yang mulia, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun al-Jami’ al-Muzhaffari di lereng gunung Qasiyun”.

3. Fatwa al-Imam al-Hafizh as-Sakhawi seperti disebutkan dalam al-Ajwibah al-Mardliyyah, sebagai berikut:

“Peringatan Maulid Nabi belum pernah dilakukan oleh seorang-pun dari kaum Salaf Saleh yang hidup pada tiga abad pertama yang mulia, melainkan baru ada setelah itu di kemudian. Dan ummat Islam di semua daerah dan kota-kota besar senantiasa mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan kelahiran Rasulullah. Mereka mengadakan jamuan-jamuan makan yang luar biasa dan diisi dengan hal-hal yang menggembirakan dan baik. Pada malam harinya, mereka mengeluarkan berbagai macam sedekah, mereka menampakkan kegembiraan dan suka cita. Mereka melakukan kebaikan-kebaikan lebih dari biasanya. Mereka bahkan meramaikan dengan membaca buku-buku maulid. Dan nampaklah keberkahan Nabi dan Maulid secara merata. Dan ini semua telah teruji”. Kemudian as-Sakhawi berkata: “Aku Katakan: “Tanggal kelahiran Nabi menurut pendapat yang paling shahih adalah malam Senin, tanggal 12 bulan Rabi’ul Awwal. Menurut pendapat lain malam tanggal 2, 8, 10 dan masih ada pendapat-pendapat lain. Oleh karenanya tidak mengapa melakukan kebaikan kapanpun pada hari-hari dan malam-malam ini sesuai dengan kesiapan yang ada, bahkan baik jika dilakukan pada hari-hari dan malam-malam bulan Rabi'ul Awwal seluruhnya” .

Jika kita membaca fatwa-fatwa para ulama terkemuka ini dan merenungkannya dengan hati yang jernih, kita akan mengetahui bahwa sebenarnya sikap “sinis” yang timbul dari sebagian orang yang mengharamkan Maulid Nabi tidak lain hanya didasarakan kepada hawa nafsu belaka. Orang-orang semacam itu sama sekali tidak peduli dengan fatwa-fatwa para ulama saleh terdahulu. Di antara pernyataan mereka yang sangat merisihkan ialah bahwa mereka seringkali menyamakan peringatan maulid Nabi ini dengan perayaan Natal yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Bahkan salah seorang dari mereka, karena sangat benci terhadap perayaan Maulid Nabi ini, dengan tanpa malu dan tanpa risih sama sekali berkata:

“Sesungguhnya binatang sembelihan yang disembelih untuk menjamu orang dalam peringatan maulid lebih haram dari daging babi”.

Orang-orang anti maulid ini menganggap bahwa perbuatan bid’ah semcam Maulid Nabi ini adalah perbuatan yang mendekati syirik. Dengan demikian, -menurut mereka-, lebih besar dosanya dari pada memakan daging babi yang hanya haram saja dan tidak mengandung unsur syirik.

Jawab:

Na’udzu Billah. Sungguh sangat kotor dan buruk perkataan orang semacam ini. Bagaimana ia berani dan tidak punya rasa malu sama sekali mengatakan peringatan Maulid Nabi, -yang telah disetujui oleh para ulama dan orang-orang saleh dan telah dianggap sebagai perkara baik oleh para ahli hadits dan lainnya-, dengan perkataan seburuk seperti ini?! Orang seperti ini benar-benar tidak tahu diri. Apakah dia merasa telah menjadi seperti al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani, al-Hafzih as-Suyuthi atau al-Hafizh as-Sakhawi atau bahkan merasa lebih alim dari mereka?! Bagaimana ia membandingkan makan daging babi yang telah nyata dan tegas hukum haramnya di dalam al-Qur’an, lalu ia samakan dengan peringatan Maulid Nabi yang sama sekali tidak ada pengharamannya dari nash-nash syari’at?! Ini artinya, bahwa orang-orang semacam dia yang mengharamkan maulid ini tidak mengetahui Maratib al-Ahkam; tingkatan-tingkatan hukum. Mereka tidak mengetahui mana yang haram dan mana yang mubah, mana yang haram dengan nash dan mana yang haram dengan istinbath. Tentunya orang-orang ”tolol” semacam ini sama sekali tidak layak untuk diikuti dan dijadikan panutan atau ikutan dalam mengamalkan ajaran agama Allah ini.


Pembacaan Buku-Buku Maulid

Di antara rangkaian acara peringatan Maulid Nabi adalah membaca kisah-kisah tentang kelahiran Rasulullah. Al-Hafizh as-Sakhawi menuliskan sebagai berikut:

“Adapun pembacaan kisah kelahiran Nabi maka seyogyanya yang dibaca hanya yang disebutkan oleh para ulama ahli hadits dalam karangan-karangan mereka yang khusus berbicara tentang kisah kelahiran Nabi, seperti al-Maurid al-Haniyy karya al-‘Iraqi (Aku juga telah mengajarkan dan membacakannya di Makkah), atau tidak khusus -dengan karya-karya tentang maulid saja- tetapi juga dengan menyebutkan riwayat-riwayat yang mengandung tentang kelahiran Nabi, seperti kitab Dala-il an-Nubuwwah karya al-Baihaqi. Kitab ini juga telah dibacakan kepadaku hingga selesai di Raudlah Nabi. Karena kebanyakan kisah maulid yang ada di tangan para penceramah adalah riwayat-riwayat bohong dan palsu, bahkan hingga kini mereka masih terus memunculkan riwayat-riwayat dan kisah-kisah yang lebih buruk dan tidak layak didengar, yang tidak boleh diriwayatkan dan didengarkan, justru sebaliknya orang yang mengetahui kebatilannya wajib mengingkari dan melarang untuk dibaca. Padahal sebetulnya tidak mesti ada pembacaan kisah-kisah maulid dalam peringatan maulid Nabi, melainkan cukup membaca beberapa ayat al-Qur’an, memberi makan dan sedekah, didendangkan bait-bait Mada-ih Nabawiyyah (pujian-pujian terhadap Nabi) dan syair-syair yang mengajak kepada hidup zuhud, mendorong hati untuk berbuat baik dan beramal untuk akhirat. Dan Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”.
 
wallahua'lam
Monday, February 7, 2011 | By: fatamorgana

Peringatan Maulid Nabi - Bahagian 2

Dalil-Dalil Peringatan Maulid Nabi

  1. Peringatan Maulid Nabi masuk dalam anjuran hadits nabi untuk membuat sesuatu yang baru yang baik dan tidak menyalahi syari’at Islam. Rasulullah bersabda:
“Barang siapa yang memulai (merintis) dalam Islam sebuah perkara baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun”. (HR. Muslim dalam kitab Shahihnya).
Faedah Hadits:

Hadits ini memberikan keleluasaan kepada ulama ummat Nabi Muhammad untuk merintis perkara-perkara baru yang baik yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah, Atsar maupun Ijma’. Peringatan maulid Nabi adalah perkara baru yang baik dan sama sekali tidak menyalahi satu-pun di antara dalil-dalil tersebut. Dengan demikian berarti hukumnya boleh, bahkan salah satu jalan untuk mendapatkan pahala. Jika ada orang yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi, berarti telah mempersempit keleluasaan yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang belum pernah ada pada masa Nabi.

2. Dalil-dalil tentang adanya Bid’ah Hasanah yang telah disebutkan dalam pembahasan mengenai Bid’ah.

3. Hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab Shahih-nya. Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram). Rasulullah bertanya kepada mereka: “Untuk apa mereka berpuasa?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari ditenggelamkan Fir'aun dan diselamatkan Nabi Musa, dan kami berpuasa di hari ini adalah karena bersyukur kepada Allah”. Kemudian Rasulullah bersabda:
“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.
Lalu Rasulullah berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.

Faedah Hadits:

Pelajaran penting yang dapat diambil dari hadits ini ialah bahwa sangat dianjurkan untuk melakukan perbuatan syukur kepada Allah pada hari-hari tertentu atas nikmat yang Allah berikan pada hari-hari tersebut. Baik melakukan perbuatan syukur karena memperoleh nikmat atau karena diselamatkan dari marabahaya. Kemudian perbuatan syukur tersebut diulang pada hari yang sama di setiap tahunnya. Bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai bentuk ibadah, seperti sujud syukur, berpuasa, sedekah, membaca al-Qur’an dan semacamnya. Bukankah kelahiran Rasulullah adalah nikmat yang paling besar bagi umat ini?! Adakah nikmat yang lebih agung dari dilahirkannya Rasulullah pada bulan Rabi’ul Awwal ini?! Adakah nikmat dan karunia yang lebih agung dari pada kelahiran Rasulullah yang menyelamatkan kita dari jalan kesesatan?! Demikian inilah yang telah dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani.

4. Hadits riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih. Bahwa Rasulullah ketika ditanya mengapa beliau puasa pada hari Senin, beliau menjawab:
“Hari itu adalah hari dimana aku dilahirkan”. (HR Muslim)
Faedah Hadits:

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah melakukan puasa pada hari senin karena bersyukur kepada Allah, bahwa pada hari itu beliau dilahirkan. Ini adalah isyarat dari Rasulullah, artinya jika beliau berpuasa pada hari senin karena bersyukur kepada Allah atas kelahiran beliau sendiri pada hari itu, maka demikian pula bagi kita sudah selayaknya pada tanggal kelahiran Rasulullah tersebut untuk melakukan perbuatan syukur, misalkan dengan membaca al-Qur’an, membaca kisah kelahirannya, bersedekah, atau perbuatan baik lainnya. Kemudian, oleh karena puasa pada hari senin diulang setiap minggunya, maka berarti peringatan maulid juga diulang setiap tahunnya. Dan karena hari kelahiran Rasulullah masih diperselisihkan oleh para ulama mengenai tanggalnya, -bukan pada harinya-, maka sah-sah saja jika dilakukan pada tanggal 12, 2, 8, atau 10 Rabi'ul Awwal atau pada tanggal lainnya. Bahkan tidak masalah bila perayaan ini dilaksanakan dalam sebulan penuh sekalipun, sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafizh as-Sakhawi seperti yang akan dikutip di bawah ini.

wallahua'lam
Sunday, February 6, 2011 | By: fatamorgana

Peringatan Maulid Nabi - Bahagian 1

Selamat menyambut Maulidurrasul

Sejarah Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata: “Raja Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang pemberani, pahlawan, alim dan seorang yang adil -semoga Allah merahmatinya-”.

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut raja al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama fiqh, ulama hadits, ulama kalam, ulama ushul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari sebelum hari pelaksanaan beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para tamu yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh raja al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua mengapresiasi dan menganggap baik perayaan maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu. Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A’yan menceritakan bahwa al-Imam al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam untuk selanjutnya menuju Irak, ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 H, beliau mendapati Raja al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh karenanya al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “at-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada raja al-Muzhaffar.

Para ulama, semenjak masa raja al-Muzhaffar dan masa sesudahnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahwa perayaan maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Jajaran para ulama terkemuka dan Huffazh al-Hadits telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-'Iraqi (W 806 H), Al-Hafizh Ibn Hajar al-'Asqalani (W 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W 911 H), al-Hafizh as-Sakhawi (W 902 H), Syekh Ibn Hajar al-Haitami (W 974 H), al-Imam an-Nawawi (W 676 H), al-Imam al-‘Izz ibn 'Abd as-Salam (W 660 H), mantan mufti Mesir; Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi'i (W 1354 H), Mantan Mufti Bairut Lebanon; Syekh Mushthafa Naja (W 1351 H) dan masih banyak lagi para ulama besar yang lainnya. Bahkan al-Imam as-Suyuthi menulis karya khusus tentang maulid yang berjudul “Husn al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid”. Karena itu perayaan maulid Nabi, yang biasa dirayakan di bulan Rabi’ul Awwal menjadi tradisi ummat Islam di seluruh belahan dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

Hukum Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad yang dirayakan dengan membaca sebagian ayat-ayat al-Qur’an dan menyebutkan sebagian sifat-sifat nabi yang mulia, ini adalah perkara yang penuh dengan berkah dan kebaikan kebaikan yang agung. Tentu jika perayaan tersebut terhindar dari bid’ah-bid’ah sayyi-ah yang dicela oleh syara’. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa perayaan Maulid Nabi mulai dilakukan pada permulaan abad ke 7 H. Ini berarti kegiatan ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, para sahabat dan generasi Salaf. Namun demikian tidak berarti hukum perayaan Maulid Nabi dilarang atau sesuatu yang haram. Karena segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah atau tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya belum tentu bertentangan dengan ajaran Rasulullah sendiri. Para ulama menggolongkan perayaan Maulid Nabi sebagai bagian dari bid’ah hasanah. Artinya bahwa perayaan Maulid Nabi ini merupakan perkara baru yang sejalan dengan ajaran-ajaran al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi dan sama sekali tidak bertentangan dengan keduanya.

diambil dari  Aqidah Ahlussunnah: Allah Ada Tanpa Tempat

wallahua'lam

6 Perkara yang Dibenarkan Mengumpat Mengikut Syara'

Segala puji bagi Allah s.w.t yang menghidup dan mematikan kita. Yang memberi nikmat iman dan Islam. Nikmat kedua sebagai umat nabi s.a.w. tidak lupa juga selawat dan salam keatas penghulu kita nabi Muhammad s.a.w, isteri-isteri baginda, keluarga baginda, para sahabat yang pemberani dan juga mereka-mereka yang mengikuti sahabat sehingga ke hari akhirat.

Amma Ba'du,

Di dalam agama kita tidak boleh mengatakan perbuatan mengutuk seseorang atau mengumpat seseorang adalah haram semata-mata, ini kerana di dalam Islam terdapat 6 perkara yang dibenarkan bagi seseorang mengumpat.

Untuk perincian dan tafsilan penghujahan kami ini, secara “Tabarrukan Wa Tawasullan”, kami bawakan apa yang dinyatakan di dalam Kitab Siarus Salikin Fi Thariqatis Sadaatis Suffiyah oleh Al-’Allamah Al-Arifu Billah Asy-Syaikh Abdussamad Al-Falimbani, Juzu’ 3, m/s 87-89, baris 12 dari atas. Beginilah ‘Ibarat Nasnya;



(Sahdan) Ketahuilah oleh mu bahawasanya sekalian kelakuan mengumpat itu Haram dan tiada diharuskan (tiada dibolehkan) oleh Syara’ melainkan 6 perkara.

Pertama, At-Tazallum , iaitu Kerana Dizalimi atau Untuk Mencari Keadilan.

Yaitu, mengkhabarkan akan kejahatan orang yang zalim akan dikau kepada Qadi, supaya menghukumkan ia akan dia

Atau, mengkhabarkan akan kejahatan Qadi yang zalim akan dikau kepada Sultan, supaya menghukumkan ia akan dia. Maka, yang demikian itu harus (boleh).

( Iaitu, mengatakan kepada Qadi bahawa Si Fulan bin Si Fulan menzalimi diri saya. Atau, mengatakan kepada Sultan bahawa ada seorang Qadi telah menzalimi diri saya. – Pent.) 


Yang Kedua , iaitu Kerana Mencari Pertolongan Kerana Mahu Menolak Kemungkaran, dan Mahu Menolak Perkara-perkara Maksiat Supaya Perkara Itu Jadi Bagus.

Ertinya, harus (boleh) mengkhabarkan akan kejahatan orang kepada orang besar atau raja kerana sebab meminta tolong akan dia atas menolakkan kejahatan orang itu.

Dan, harus (boleh) pula mengkhabarkan akan kejahatan orang yang berbuat maksiat kepada orang besar atau kepada raja-raja, kerana sebab meminta tolong akan dia supaya mengembalikan ia, akan dia orang yang berbuat maksiat itu kepada berbuat kebajikan. 


Ketiga, Al-Istifta’ , iaitu Feminta Fatwa Daripada Mufti.

Yakni, harus (boleh) mengkhabarkan kejahatan orang kepada Mufti kerana menuntut fatwa kepadanya, seperti berkata seorang kepada Mufti,

“Bapa ku atau saudara ku, ia menzalimi akan daku dengan berbuat kejahatan akan daku. Apa hukumannya, dan betapa (apakah) jalan yang melepaskan akan yang demikian itu?”

Seperti apa yang diriwayatkan daripada perempuan yang bernama Hindun. Maka, mengadu ia akan hal suaminya, Aba Sufyan kepada Nabi saw dengan katanya;

“Bahawasanya Aba Sufyan laki-laki kikir (kedekut). Padahal ia tiada memberi akan daku dan akan anak ku makanan dan pakaian yang memadai akan daku. Dan, adakah harus (boleh) aku mengambil akan makanan atau pakaian itu dengan tiada ia mengetahui akan yang demikian itu?"
Maka, Sabda Nabi saw,
“Ambil olehmu akan makanan dan pakaian itu yang memadai akan dikau dan akan anakmu dengan yang Ma’ruf (Kebaikan), dan jikalau tiada ia mengetahui akan yang demikian itu sekalipun.”

Keempat , iaitu Mengingatkan Orang Islam Akan Kejahatan.


Ertinya, harus mengkhabarkan kejahatan orang kerana menakuti akan orang Muslim daripada kejahatan orang itu.


Apabila engkau lihat akan seseorang baharu menuntut ilmu itu. Padahal, ia berulang pergi pada orang yang bid’ah. Yakni orang yang tiada baik iktiqadnya atau orang yang tiada baik agamanya. Maka harus engkau khabarkan kepadanya akan kejahatan orang itu supaya jangan ia mengaji kepadanya atau supaya jangan ia bersahabat dengan dia kerana bersahabat dengan orang demikian itu membawa kepada membinasakan akan agama.

(Dan demikian lagi) Jika engkau lihat akan seseorang yang berulang-ulang pergi datang mengaji kepada orang yang fasiq atau Ulama yang jahat. Maka harus engkau khabarkan kepadanya akan kejahatan orang yang fasiq dan kejahatan ‘ulama yang jahat supaya menjauhi orang itu daripada berguru kepada orang yang demikian itu.

Tetapi, (hendaklah) engkau qasadkan yang demikian itu kerana Allah Taala dan jangan engkau qasad kerana dengki akan dia.

(Dan demikian lagi) Jika engkau lihat akan seseorang berkehendak membeli akan sahaya (hamba). Padahal engkau ketahui akan sahaya itu pencuri atau berbuat maksiat. Maka harus engkau khabarkan akan orang yang berkehendak membeli akan dia, akan kejahatan sahaya itu supaya menjauhi ia daripada membeli akan sahaya itu.




(Dan demikian lagi) Jikalau bertanya seseorang akan dikau akan hal orang yang dijadikannya akan saksi itu, jikalau engkau ketahui akan orang itu jahat. Maka harus engkau khabarkan akan kejahatan orang itu.

(Dan demikian lagi) Jika orang yang berkehendak beristeri. Maka bertanya ia akan dikau akan perempuan yang hendak diperbuatnya isteri itu. Padahal, ia jahat perbuatannya. Maka harus engkau khabarkan akan kejahatan perempuan itu.

(Dan demikian lagi) Jika seseorang berkehendak mempersuamikan akan anaknya perempuan, dengan seorang laki-laki yang jahat. Maka harus engkau khabar kepada bapa perempuan itu akan kejahatan laki-laki itu dan barang sebagainya.

Seperti Sabda Nabi saw, 
“Sebutkan oleh kamu akan orang yang Fajir, yakni orang yang fasiq itu akan kejahatan yang ada di dalamnya itu supaya menjauhi akan dia itu oleh manusia.”

Dan yang kelima

Harus menyebutkan akan aib orang yang tiada diketahui akan dia, melainkan dengan disebutkan akan aibnya itu seperti Si Fulan yang Buta. Atau, si fulan yang tempang. Atau, barang sebagainya. 


Dan yang keenam

Harus menyebutkan akan kejahatan orang yang telah masyhur akan fasiqnya itu, seperti orang yang masyhur dengan berzina. Atau, yang masyhur dengan berliwat. Atau, orang yang masyhur dengan meminum arak. Atau, barang sebagainya.

Dan, kata Hasan Al-Basriyy Rahimahullahu Taala,
“Ertinya, tiga orang tiada haram atas orang yang mengumpat bagi mereka itu.

  1. Orang yang bidaah.
  2. Orang yang Fasiq yang menzahirkan ia akan maksiatnya itu sekira-kira jikalau dikata oleh orang akan kejahatannya itu, nescaya tiada ia benci akan yang demikian itu.
  3. Raja-raja yang zalim. Maka tiada haram atas seseorang menyebutkan akan pekerjaannya yang zalim itu.”
Kesimpulannya, terdapat enam jenis umpatan yang dibenarkan di dalam Syarak.

Oleh itu, jika kami ada menyatakan bahawa seseorang itu mempunyai keburukan atau sesuatu jemaah itu mempunyai keburukan. Maka, inilah yang dikatakan sebagai "tahzirul muslimin minal syarri", iaitu mengingatkan orang Islam akan kejahatan seseorang.

Sedarlah wahai para pembaca yang budiman sekalian! Tujuan kami menyebarkan peringatan ini bukan sebagai memecah belahkan Umat Nabi saw seperti apa yang didakwa oleh orang-orang Jahil agama.

Tetapi, sebagai menyampaikan Perintah dari Allah swt kepada kami, agar melakukan ‘Al-‘Amru Bil Ma’ruf (Mengajak Manusia ke arah kebaikan) dan Nahyu Anil Munkar (Mencegah daripada Kemungkaran). Iaitu, dengan menyebarkan Aqidah dan Tauhid yang benar, dan mencegah manusia dari terjerumus ke lembah ‘Bidaah Aqidah dan Tauhid’ yang mungkar.

diambil dari Mohd Fahmi Zakaria:

wallahu aa'lam